Dalam ayat langganan undangan pernikahan, surat al-Ruum ayat 21, disebutkan bahwa sayang (mawaddah) dan kasih (rahmah) muncul setelah litaskunu/sakinah. Litaskunu ilaiha artinya agar engkau berusaha terus-menerus untuk tenang-hati dengan pasanganmu. Setelah tenang-hati, barulah sayang dan kasih akan diturunkan sebagai berkah di dalam pernikahan.

Sebelum menikah, tidak ada cinta. Yang ada hanya nafsu berbulu cinta. Nafsu karena melihat lawan jenis yang cantik-ganteng. Nafsu karena memandang lawan-jenis yang kaya. Nafsu karena melirik lawan jenis dari keluarga terpandang. Nafsu karena menatap lawan jenis dianggap baik agamanya. Lalu nafsu-nafsu itu dilogikakan sehingga disebut cinta oleh si penafsu.

Siapa yang menikahi lawan jenisnya karena kecantikan atau kegantengan, maka selama pernikahan itu, ujian terbesarnya adalah di bagian kecantikan atau kegantengan itu. Misalnya ketika telah menikah, pasangannya dibukakan Allah seluruh keburukannya yang disembunyikan ketika mereka berkenalan atau berpacaran. Yang menikah karena melihat kekayaan, akan diuji dengan kekayaan dan hal-hal yang terkait dengannya. Yang menikah karena pertimbangan nasab, juga akan diuji dengan masalah pernasaban. Ujian yang lebih parah dan lebih sulit dijalani adalah ujian untuk pasangan yang menikah karena nafsu berbalut pertimbangan kualitas keagamaan pasangannya. Bagian ini banyak kasusnya di tengah-tengah masyarakat.

Bukankah Kanjeng Nabi pernah bilang bahwa menikah itu hendaklah dilandasi oleh empat alasan; kecantikan/kegantengan, kekayaan, harta, dan agama? Memang betul. Tapi waktu memutuskan menikahi lawan jenis berdasarkan satu dari empat hal itu, itu murni karena mengamalkan dawuh Kanjeng Nabi atau hanya memakai dawuh Kanjeng Nabi untuk melegitimasi atau mensahihkan nafsu berbalut cinta? Ujian diturunkan untuk membersihkan nafsu-nafsu berbalut cinta itu. Supaya cintanya mensuci.

Gusti Maha Adil. Meskipun ada orang yang menikah berlandaskan nafsu pertimbangan agama, namun, nantinya ketika ia lulus ujian, ia akan dilahirkan untuk yang kedua kalinya. Wijil kata orang jawa. Gusti Allah menyembunyikan rahmat dan berkah di balik nafsu. Manusia akan kembali ke hadirat Tuannya dengan nafsu yang telah disucikan itu, yaitu nafsu muthmainnah. Irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah. Nafsu muthmainnah itu nafsu yang telah dibasuh oleh kerelaan (mardhiyyah) Sang Pemberi nafsu. Tidak hanya itu, pemilik nafsu juga rela (radhiyah) atas pemberian Sang Pemberi.

Gambar di atas adalah puisi yang saya tulis dan saya ukirkan di undangan pernikahan saya. Enam tahun lalu. Sehari setelah tanggal ini. Juga jatuh pada Jumat Pon. Saya menulis puisi ini tujuh tahun sebelum mendapatkan takdir menikahi ibunya Ertaja dan Sarira.

Berkeluarga adalah bertirakat, suluk. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *