Cara Gabriel Garcia Marquez Mengungkapkan Urusan Seks dengan Sopan

Judul Buku       : Para Pelacurku yang Sendu (Terjemahan dari Memories of My Melancholy Whores)

Penulis             : Gabriel Garcia Marquez

Penerjemah      : An Ismanto

Penerbit           : Penerbit Circa

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : 133 halaman

ISBN               : 978-602-74549-2-7

Di Indonesia―khususnya di Pulau Jawa―menyampaikan segala hal tentang seksualitas masih dianggap tabu atau tak senonoh. Stigma seperti ini (sedikit maupun banyak) berpengaruh terhadap perkembangan diksi kesusastraan nusantara. Kalimat-kalimat yang dianggap terlalu vulgar rawan disensor, bahkan terancam gagal terbit (meskipun dengan ide cerita yang baru dan menarik). Menyikapi hal ini, seorang sastrawan tak akan kehabisan akal untuk menyiasati jeruji budaya seperti ini. Dengan kemampuan olah kata yang mumpuni, urusan seksualitas yang dianggap tidak sopan dapat disulap menjadi hal yang lebih estetis. Dalam karya fiksi, hal seperti ini dapat disebut sebagai kode estetik. Di antara karya sastra yang berhasil mengungkapkan urusan seksualitas dengan ‘santun’ adalah novel Para Pelacurku yang Sendu karya Gabriel Garcia Marquez.

Novel Para Pelacurku yang Sendu sendiri merupakan karya pamungkas Marquez sebelum ia menutup mata selamanya. Sebagai karya penutup, novel ini sedikit berbeda dengan novel-novel sebelumnya. Namun, tulisan ini tidak akan bertele-tele untuk menjelaskan perbedaan novel ini dengan novel-novel sebelumnya, lebih berfokus menyoroti masalah ungkapan sopan Marquez dalam menyampaikan seksualitas.

Sebuah kisah tentang seorang lelaki berusia 90 tahun jatuh hati kepada seorang gadis yang baru memasuki fase puber. Paparan seksualitas Marquez yang menggunakan bahasa figuratif, membuat urusan seks tak lagi terkesan tabu, namun justru terkesan anggun dan elegan.

Satu di antara ungkapan seksualitas yang sopan terdapat pada ungkapan tokoh Aku saat sedang berada dalam birahi tinggi. Berikut kutipannya;

Pada percobaan pertama, ia melawan dengan paha mengencang. Aku bernyanyi di telinganya: Malaikat merubungi ranjang Delgadina. Ia menjadi sedikit lebih santai. Seembus gelombang hangat mengalun di urat nadiku, dan hewan lamban yang bermukim dalam diriku terjaga dari tidur panjangnya(halaman 28).

Lewat ungkapan tersebut, keinginan untuk menyetubuhi justru tersampaikan dengan santun, tak ada tabu-tabunya sedikitpun. Penyebutan ingin berhubungan intim yang diungkapkan dengan kalimat gelombang hangat mengalun di urat nadiku serta tegaknya kemaluan yang disampaikan dengan kalimat hewan lamban yang terbangun dari tidur panjang, menjadi bukti bahwa karya sastra memang mampu ‘menyopankan’ segala hal yang dianggap tabu.

Tak hanya ungkapan syahwat, penyebutan istilah kemaluan juga ‘diubah’ menjadi istilah yang santun― sedikit jenaka. Seperti dalam kalimat tanya yang disampaikan oleh Rosa Cabarcas,  Seingatku, kau punya pentungan besar, katanya. Bagaimana kabarnya?” (halaman 23). Karena telah lama tak mengunjungi rumah bordir, Rosa Cabarcas bermaksud menyindir tokoh Aku yang tiba-tiba berhenti dari aktivitas memanjakan ‘pentungan besar’ di rumah bordir. Selain pengalihan istilah, Marquez juga membuat bahasa yang santun tentang penggunaan obat kuat. Seperti dalam kalimat berikut ini;

Rosa mencari-cari di antara peralatan jahitnya dan membuka kaleng kecil salep hijau yang berbau obat gosok. Katakan kepada gadis itu untuk menggosoknya dengan jari, seperti ini, dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya dengan kurang ajar(halaman 23).

Maksud dari ungkapan salep hijau yang berbau obat gosok pada kutipan di atas adalah obat sejenis salep yang berkhasiat untuk menguatkan stamina dalam berhubungan badan. Hal ini dilandasi oleh relasi ungkapan tersebut dengan kalimat sesudahnya yang berupa menggerak-gerakkan jarinya dengan kurang ajar. Diksi ‘kurang ajar’ tak akan digunakan jika salep itu hanya salep biasa, sebab diksi ‘kurang ajar’ hanya digunakan dengan hal-hal yang dianggap tidak sopan. Marquez mampu mengimplisitkan maksud obat kuat tersebut dengan bahasa yang santun dan menyejukkan.

Hal lain yang membuat buku ini layak dinikmati adalah tingkat ketebalannya yang hanya 133 halaman, sehingga dapat dengan mudah dibawa ke mana-mana. Akhir kata, tabu hanyalah sebutir debu di hadapan karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *