Pilihan RedaksiPustakaUlasan

Bilangan Fu Bukan Bilangan Feminis

Judul : Bilangan Fu

Penulis : Ayu Utami

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman : x + 537

Cetakan : pertama/2008

ISBN 13 : 978-979-91-0122-8

Peresensi : Betari Imasshinta

Sama halnya ketika orang-orang berkata bahwa perempuan sulit dimengerti. Bukan sulit dimengerti, melainkan tak terjemahkan. Bilangan Fu adalah tak terjemahkan. Ia (perempuan) bukan tidak bisa diterjemahkan, hanya tak terjemahkan. Melalui tokoh utamanya, novel ini menyimpan teka-teki; perempuan menyatu dengan iblis cum malaikat tak dapat melepaskan diri darinya. Dan maskulinitas adalah iblis sekaligus malaikat itu.

Fu senantiasa berkelindan dengan kekuasaan-kebenaran-kebaikan begitu intim dengan segitiga. Bukan perihal  -sebab ia berbentuk obat nyamuk bakar- entah perihal apa ia menjadi misteri, ia tak terjemahkan. Bilangan Fu hidup bersama “si iblis”, “si manusia”, dan “si malaikat” – demikian Ayu Utami menamai tokoh utama novel ini. Masing-masing adalah Yuda, Marja, dan Parang Jati.

Marja adalah kekasih Yuda yang merupakan sahabat Parang Jati.  Namun penggambaran ini pun sama sekali tak menyentuh kedalaman hubungan ketiganya. Di bagian akhir novel ini, Ayu Utami menggambarkan mereka layaknya senyawa ozon (O3). O2 adalah Yuda dan Marja, O gabungannya adalah Parang Jati. Ozon yang mencipta keharmonisan hidup di muka bumi.

Dari Marja kita belajar menjadi perempuan yang mampu menghibur diri sendiri. Menolak stereotipe perempuan sebagai makhluk penuntut dan tergantung. Menggantungkan kebahagiaan dari perhatian orang atas kesenduan yang diciptakan sendiri. “Barangkali senjata sendu itu bukan pada dirinya feminin. Senjata menuntut perhatian adalah milik anak anak. Senjata infantil.” (h. 409)

Dari novel ini pula kita belajar menimbang setiap laku. Stereotipe lain atas perempuan, “Dari pada menyelesaikan segala sesuatu secara terbuka, mereka lebih suka mengambil keputusan sendiri, diam-diam” disisir oleh si skeptis, Yuda, yang telah bersinkretis dengan spiritualisme kritisnya Parang Jati.

Begini, kata Yuda, “Lelaki suka menyelesaikan sesuatu secara terbuka, dan itu artinya melalui perkelahian. Ini cara buruk yang maskulin. Cara buruk yang feminin adalah memendamnya: mengambil kesimpulan sendiri dan menghukum sendiri.” (h. 418). Demikianlah novel ini mengajak pembaca merekonstruksi cara pandang konvensional masyarakat kita.

Lalu, dari Yuda pula kita belajar kesadaran ruang bagi sang liyan. Ia memandang Marja sebagai pribadi yang selalu bisa membuat dirinya asyik sendiri, hingga keasyikannya itu memancarkan energi positif bagi sekitarnya. “Setelah aku berjarak dari egoku, kukira demikian pulalah dalam hal seks. Bukan aku yang memuaskan dia. Dia memuaskan dirinya menggunakan aku.”, ucap Yuda perihal Marja.

“Si iblis, Yuda, adalah pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat” (Bilangan Fu, Ayu Utami, 2008). Pemanjat yang memperkosa tebing. Sekalipun, ia tak pernah peduli kepada penjaga tebing -masyarakat desa dan energi bumi yang mengitarinya. Ia sekadar menyukai suara alam untuk kabur dari kebisingan modernitas, utamanya cekikikan ‘kuntilanak’ televisi yang dibintangi wujud perempuan Suzana.

Yuda yang tertekan pembodohan televisi berkedok tubuh perempuan, berbalik badan pada pemanjatan tebing di mana dirinya hanya mendengar suara alam tanpa hantu listrik dan televisi. Sangat mengejutkan bahwa Ayu Utami menciptakan kisah tebing yang  hendak ditaklukkan. Yuda ialah tebing berbentuk farji, Garba Ageng julukannya -yang semula diklaimnya berbentuk wajah lelaki perkasa.

Semacam perumpamaan bahwa benar perempuan lekat pada simbol hantu -atas penguasaan tubuh oleh sistem modernisme- tetapi -bagi yang menyadari- wujud sesungguhnya menyimpan keagungan sebagai malaikat (dilambangkan tebing yang menyimpan keagungan). Sosio kultural kita memang tersusun atas mereka yang terjerat kenikmatan semu serta orang-orang yang menyadari keheningan.

Di lain sisi, pemanjatan tak bersih yang dilakukan Yuda sesungguhnya pelampiasan dahaga berkuasa dalam diri. Ia tak menyadari kerusakan tebing atas paku dan bor pemanjatannya. Sebaliknya, si malaikat, Parang Jati, adalah penganut pemanjatan bersih yang berusaha semaksimal mungkin untuk memasang sesedikit mungkin bor.

“Tapi pemanjat sejati harus berdialog dengan tebingnya,” yakin Ayu Utami, “Sebab, yang ia ingin taklukkan tak lain adalah tebing itu sendiri. Pemanjat sejati baru berhasil memanjat jika ia tidak merusak tebingnya. Jika ia merusak tebing, apa bedanya ia dengan begundal?” (h. 81)

“Moral ceritanya adalah: manusia harus menahan sampai titik nadir tenaganya, sebelum ia menerapkan kekuasaan. Yaitu, bor. Yaitu hukum.” Lanjut Ayu Utami, “Hukum adalah seperti bor. Yaitu alat kekuasaan. Seorang pemanjat yang satria dan wigati adalah mereka yang menghindari sebisa mungkin penerapan kekuasaan. (h. 513)

Hadirnya Yuda dan Parang Jati menyiratkan dua entitas kemaskulinan. Dalam novel ini, Ayu Utami menjalin kisah menyatunya kedua entitas tersebut dalam sifat satria-wigati (bukan wigata). Satria yang identik dengan pria, sedang wigati identik dengan welas asihnya perempuan. Bukan Parang Jati berhasil menguasai Yuda, tetapi keduanya yang saling melekatkan diri.

Kiranya elok dari kisah pemanjatan Garba Ageng, kita menemukan kesepakatan bahwa tak seharusnya menggunakan kekuasaan untuk berdialog dengan perempuan. “Perampok atau serdadu itu memperkosa. Tapi seorang satria atau gentleman sejati bersetubuh dengan perempuan dalam hubungan dialogis.” (h. 81). Penaklukkan adalah jalan perang, sedang hubungan dialogis adalah kerjasama.

Pemanjatan bersih menghargai betul sang Garba Ageng, pemanjatan yang maskulin sekaligus feminim, kekuatan tekad menaklukkan beririsan dengan kelembutan menjaga apa yang dipanjat. Pemanjatan yang satria wigati (bukan wigata) pada tebing farji oleh para lelaki. Berpadunya maskulinitas dengan feminitas menemukan relasi gender.

Relasi kualitas maskulin dan feminin yang saling memiliki keterkaitan, berupa pertentangan (dualis), tetapi berada dalam hubungan kesatuan dan kesalingan (komplementer). (Sachiko Murata, The Tao of Islam)

Bukan gender yang kultural dan terberi, melainkan spiritual dan aktif. Maksud aktif dalam konteks ini adalah, terang Fatrawati Kumari, “bahwa apa dan bagaimana sifat yang akan melekat dapat diupayakan oleh manusia yang bersangkutan melalui olah jiwanya yang ditujukan kepada Tuhan.”

Sesederhana sosok Nyi Manyar dalam novel ini. Ia adalah wadak perempuan yang sepenuh tubuhnya terbangun atas dua unsur. Seorang ibu di kanan, sesosok zirah di kiri. Sisi kanannya adalah seorang ibu, yang hangat, lapang, dan bersahaja. Namun sisi kirinya adalah logam, yang keras, dingin, berkarat, berbahaya. Logam tak mulia. (h. 224). Kedua sisi itu dinampakkan sesuai bagaimana sang liyan berdialog dengan Nyi Manyar.

Kiranya demikian satu laku kritik yang dihitung dari bilangan Fu. Tentang hubungan dialogis atas entitas maskulin-feminin. Sesosok bilangan misteri tentang membagi yang sama dengan mengalikan yang senantiasa menghasilkan satu dari bukan bilangan satu. 1 x a = 1 : a = 1, a bukan 1. A adalah bilangan Fu.

Ia bukannya hendak berpihak, hanya saja -seperti keyakinan Parang Jati- segala kebenaran senantiasa mesti dipanggul dan dijaga dengan kritik, agar hanya kebaikan yang berbiak. Kebenarannnya bahwa laki-laki dan perempuan adalah berbeda, tetapi kebaikan ada pada penyatuan keduanya.

Bilangan Fu tidak hanya menghitung relasi komplementer atas kehidupan. Tentu di luar itu, begitu berserak diskursus bercorak spiritualisme kritis ala Ayu Utami yang dapat digali dari novel ini. Dalam bentuknya sebagai novel, laku kritik yang digaungkan Ayu Utami menjadi begitu ringan (bukan mudah) untuk diselami bagi siapa saja.

**

Comment here