Benarkah Ibadah Tidak Serta-Merta Membebaskan Diri dari Perbuatan Tercela?

Ada yang terlupa dari benak sebagian manusia bahwasannya tubuh tak ubahnya kerajaan. Perumpamaan ini disampaikan Imam Ghazali melalui pemaparan menarik, di mana raja pada manusia sesungguhnya adalah hati. Bukan akal. Sebagai wilayah domestik yang memiliki tugas mempertimbangkan segala sesuatu, tentu akal tak ubahnya penasehat raja. Tanpa penasehat, seorang raja tak mungkin memutuskan segala sesuatu dengan bijak.

Sedangkan nafsu, ia diumpamakan sebagai hulubalang kerajaan yang memiliki fungsi ganda. Kadang ia menjelma pegawai korup, kadang pula sebagai pengawal yang loyal dan setia. Karena memiliki peran ganda, maka kerajaan memiliki dua sumber penghancuran yang dapat mengganggu stabilitas keamanan. Pertama, dari internal kerajaan yang dilakukan nafsu. Kedua, dari luar kerajaan yang datang dari setan, jin dan manusia. Maka, dari sinilah jihad manusia dimulai.

Nafsu, jika tidak dikendalikan, ia bisa merongrong tubuh manusia sehingga merusak tatanan kehidupan. Saya akui, menyetir nafsu tak semudah menyetir kendaraan. Kadang hari ini merangkak-rangkak mencapai puncak, esok tergelincir begitu deras sehingga kembali ke dasar. Begitu berulang-ulang. Tak heran jika Rasul bersabda bahwasannya jihad yang paling utama adalah berjihad dengan diri sendiri. Sungguh, mengendalikan nafsu ke jalan yang lurus dan benar itu sangatlah susah. Apalagi jihad menurut takaran Tuhan.

Ukuran jihad menurut Tuhan ini sangat penting, mengingat manusia zaman sekarang mudah menghukumi orang lain tanpa pertimbangan matang. Misalnya ketika seorang perempuan berjilbab dipergoki mencuri kotak amal. Maka umat negeri ini melalui syiar media sosialnya, ramai-ramai akan membully kerudung yang dikenakan. Bukan perbuatan mencurinya. Keadaan ini menghasilkan paradigma buruk. Yang mencuri jelas buruk, yang membullly juga buruk karena menghina.

Begitupula dengan perempuan bercadar yang kerap menjadi pengantin bom bunuh diri. Stigma ini begitu lekat dan menyisakan peristiwa pekat karena perempuan yang memutuskan bercadar kerap dipandang sebelah mata. Ia dipandang menakutkan dan keberadaannya mendatangkan keresahan. Padahal seharusnya, yang salah pada pelaku bom bunuh diri adalah perbuatannya menjadi teroris, bukan pada cadar dan ibadah yang dilakukan. Di sinilah kesemrawutan stigma yang lahir dari masyarakat, sehingga muncul kalimat, “lebih baik tidak beribadah dan tidak berkerudung daripada seperti mereka”

Agaknya, pencapaian peradaban ini harus dibarengi dengan memetik hikmah masa silam. Bukan apa-apa, sejarah bukan sekadar kisah. Di dalamnya sarat pelajaran yang dapat kita petik tiap saat. Katakanlah Ibnu Muljam yang seorang ahli ibadah dan konon penghafal Qur’an. Pada faktanya dia membunuh Sayyidina Ali. Bahkan ketika menghunuskan pedangnya, ia mengutip ayat kitab suci. Tentu ayat suci yang ia ucapkan adalah kebaikan, tapi Ibnu Muljam tak sadar telah menggunakannya sebagai jalan kebatilan.

Pembunuhan Sayyidina Ali sebetulnya sarat nasihat, salah satunya adalah ibadah seseorang takkan serta-merta menghindarinya dari perbuatan tercela apabila tidak dibarengi dengan jihad melawan diri sendiri. Kesadaran ini acapkali luput dari pandangan manusia. Banyak yang mengira bahwa ibadah seperti shalat, zakat dan sedekah sudah cukup menjadi pribadi muslim yang saleh dan shalehah. Padahal shalat bukan sebatas gerakan takbir, rukuk dan sujud. Di dalamnya terdapat bacaan agung yang mestinya kita ketahui arti dan makna tiap bacaan di tiap gerakan, dan yang terpenting kita praktikkan.

Begitu juga dengan puasa. Ia tak hanya identik dengan menahan lapar saja. Ia adalah upaya untuk mengendalikan nafsu ke arah yang lurus dan benar. Ia tak hanya berlangsung pada bulan Ramadhan atau hari Senin-Kamis. Puasa harus senantiasa dilakukan tiap waktu. Tiap hari. Tanpa pandang hari Rabu atau Jumat.

Saya kira, mempraktikkan hakikat shalat atau hakikat puasa adalah bentuk jihad yang mesti kita lakukan. Sudah semestinya beribadah pada Tuhan tidak lagi sebatas bacaan di bibir semata. Ia harus dibarengi usaha agar perbuatan kita terhindar dari ranah munkar. Dengan begitu, Islam yang toleran, Islam yang damai dan menyejukkan akan terpatri dari tingkah laku kita.

 

Wallahu a‘lam

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *