EsaiHikmahPilihan RedaksiUncategorized

Belajar dari ‘Kemurtadan’ Perempuan; Refleksi Buku Biografi Ayaan Hirsi Ali (Part I)



Konsep Islam yang adil dan anti kekerasan ternyata tidak begitu saja diterima dan dirasakan oleh umat manusia, bahkan tidak oleh muslim itu sendiri. Adalah Ayaan Hirsi Ali, muslimah Somalia yang memilih meninggalkan Islam setelah mengalami dan menyaksikan pengalaman-pengalaman buruk sebagai perempuan muslim, setidaknya dari pengalaman sunat perempuan, rasisme, dan kekerasan terhadap perempuan. Tulisan ini mengulas perjalanan Ayaan Hirsi Ali dari seorang muslimah menjadi perempuan yang begitu membenci Islam.

Praktik sunat perempuan di Somalia, sebagaimana di negara-negara Afrika lainnya, tidak hanya dilakukan secara simbolik dengan ‘netesi’ klitoris seperti yang dipraktikkan masyarakat di beberapa tempat di Jawa (dahulu kala). Sunat perempuan di negara yang mayoritas penduduknya muslim itu dilakukan dengan memotong klitoris, bahkan ada yang hingga habis. Praktik tersebut dilakukan ketika anak perempuan memasuki usia lima tahun, saat klitoris dan labium anak diyakini mulai membentuk ke luar.

Ayaan Hirsi Ali masih berusia lima tahun, sementara adik perempuannya, Haweya, dua tahun lebih muda, ketika neneknya ‘memaksa’ mereka untuk sunat. Di sekolah ‘madrasah’-nya (Quran School) perempuan seusia Ayaan yang belum sunat banyak mendapatkan bullying dari teman-teman sebayanya dengan mendapat sebutan ‘Kintirleey’ – perempuan dengan klitoris–, termasuk juga Ayaan. Ayaan dan adiknya pun disunat oleh juru sunat tradisonal keliling. Mula-mula klitorisnya dipotong, lalu darah segar pun mengalir.Umumnya, seluruh area sekitar klitoris dijahit rapat, hanya menyisakan sedikit lubang untuk air kencing.

Jangan tanya bagaimana perihnya, mendengarnya saja sudah ngilu. Maka pantas jika Ayan dan adiknya mengalami demam tinggi dan kesakitan. Ayaan butuh waktu dua minggu untuk pulih, sementara adiknya harus menanggung derita yang lebih panjang karena bagian vitalnya harus dijahit ulang setelah jahitan sebelumnya robek. Meski begitu, Ayaan dan adiknya termasuk beruntung, banyak perempuan muda yang mati baik selagi maupun setelah sunat berlangsung, ataupun kesakitan yang berkepanjangan karena komplikasi dan penyakit turunan yang ditimbulkan.

Praktik sunat perempuan memang lebih tua dari Islam, tidak semua muslim melakukannya, dan hanya sedikit non-muslim yang mempraktikkan. Tetapi menurut Ayaan, di Somalia praktik ini selalu dijustifikasi atas nama Islam. Perempuan yang tidak disunat akan distigma mudah dirasuki setan, selalu diliputi kejahatan dan kehancuran, serta menjadi perempuan ‘jalang’. Sayangnya, para pemuka Islam (imam) di sana tidak pernah melarang praktik sunat perempuan, mereka justru melanggengkannya dengan menganggap praktik ini sebagai cara menjaga kesucian.

Pengalaman traumatik atas sunat perempuan itulah yang menjadi pemicu awal apatisme Ayaan terhadap Islam, ditambah lagi dengan rentetan peristiwa dan masalah yang ia hadapi dan disaksikannya langsung mendorongnya mantap meninggalkan Islam.

Momen-Momen Negatif

Selain sunat perempuan yang cukup traumatik, pengalaman rasisme yang dialami dan disaksikan Ayaan Hirsi Ali juga memicunya ‘mempertanyakan’ Islam. Ayaan dan keluarganya bermigrasi ke Saudi Arabia setelah mengalami kehidupan berliku di Somalia. Di negara yang sangat diagungkan oleh ibunya sebagai negara Allah itu, ia justru mendapatkan panggilan ‘abid’ atau budak dari teman-teman sekolah Qur’annya yang kesemuanya berkulit putih.

Di Saudi, mencela Yahudi adalah hal lumrah, segala hal buruk yang terjadi pada seseorang ataupun sesuatu akan selalu dinisbatkan kepada ‘Yahudi’. Padahal seperti halnya Ayaan, mereka pun belum pernah bertemu langsung dengan orang Yahudi. Tidak hanya Yahudi yang menjadi bahan olok-olok, non-muslim lainnya pun mendapat stigma buruk sebagai kotor dan najis oleh masyarakat muslim Saudi, termasuk oleh ibu Ayaan, Asya artan. Karenanya, ketika Hirsi Magan Isse, Ayahnya, yang seorang pelarian politik Somalia dideportasi oleh kerajaan Saudi, Ibunya menolak keras untuk pindah ke Ethiopia. Tetapi tidak ada pilihan lain, mereka harus tinggal di negara “kufr”, begitu ibunya menyebut.

Di Ethiopia, tepatnya di kota Adis Ababa, untuk pertama kali Ayaan bertemu dengan non-muslim, Kiristaan (Kristen), mereka adalah teman-teman sekolah yang menyenangkan, dia bahkan langsung mendapatkan teman di hari pertamanya sekolah. Di negara yang sangat dibenci ibunya itu, dia justru merasa bebas. Meskipun Ethiopia negara miskin, tapi bagi Ayaan, orang-orangnya sangat baik, guru-gurunya jarang menghukum, dan ia bebas berlarian, bebas memiliki teman laki-laki maupun perempuan, tidak seperti sekolahan di Saudi yang ,  memiliki peraturan sangat ketat, sedikit-sedikit ‘haram’.

Hanya sekitar satu tahun Ayaan dan keluarganya tinggal di Ethiopia. Kondisi politik yang kian tidak menentu memaksa Ayahnya untuk memindah keluarganya ke Nairobi, Kenya. Walaupun sang ibu bersikeras untuk pindah kembali ke negara muslim. Bagi sang Ibu Kenya adalah negara ‘unbeliever’, ia meyakinkan anak-anaknya bahwa orang-orang Kenya itu kotor, menjijikan, dan bisa menginfeksi penyakit yang menyeramkan. Perempuan yang pernah tinggal di Kuwait pada perkawinan pertamanya ini menyebut orang Kenya sebagai “abid”–panggilan yang pernah disematkan teman-teman Saudinya kepada Ayaan dan adiknya–, ‘dhagah’ (batu), dan panggilan buruk lainnya yang ia sematkan kepada ‘kafir’ (Kenya). 

Di Kenya, Ayaan melanjutkan sekolah di sekolahan perempuan Muslim (Muslim Girls’) yang tidak semua muridnya beragama Islam, separuh dari jumlah muridnya adalah Kenyan (orang-orang Kenya) yang tentu beragama non-Islam; Kristen dan agama lokal (Pagan). Di sekolah tersebut Ayaan bertemu sister Aziza, guru agama Islam yang sangat ia kagumi. Guru lulusan Mekah dan Madinah tersebut selalu menjelaskan bagaimana menjadi muslim yang baik, juga sering menakut-nakutinya dengan cerita surga dan neraka, serta cerita musuh umat Islam yang di antaranya adalah Yahudi, yang digambarkannya sebagai monster terjahat.

Sebagai murid yang sangat mengagumi gurunya, Ayaan mengikuti nasihat sang guru untuk mengajak teman-temanya yang non-muslim menjadi muslim. Tetapi teman-temannya dengan halus dan argumentatif menolak ajakan Ayaan. Ayaan menceritakan hal ini kepada sister Azizah, sang guru mengatakan bahwa teman-temannya adalah orang-orang yang merugi; yang kelak akan disiksa di api neraka. Di situlah Ayaan merasa bimbang; apakah benar teman-temannya  yang baik akan disiksa begitu saja di neraka hanya karena menolak menjadi muslim seperti halnya dia yang menolak menjadi Kristen?, lalu di mana sifat kasih sayng Allah?.

di usia yang belum genap sepuluh tahun, Ayaan sudah mengalami dilema rasisme. Di satu sisi, Ia menjadi korban rasisme oleh teman-temannya di Saudi, tetapi di sisi lain, Ibu dan guru agama idolanya yang keislamannya dianggap sangat taat, justru ‘mendidik’-nya dengan bahasa-bahasa rasis untuk membenci agama lain.

Pengalaman negatif lain yang paling memengaruhinya meninggalkan Islam adalah trauma pengekangan dan kekerasan perempuan yang ia saksikan dan bahkan alami langsung. Misalnya ketika pertama kali mendarat di Saudi Arabia, Ayaan menyaksikan bagaimana Ibunya sangat histeris ketika pihak imigrasi melarangnya masuk ke Saudi hanya gara-gara tanpa laki-laki yang mendampinginya. Saat itu, sang ayah masih di Ethiopia, menunggu waktu yang tepat untuk menyusulnya ke sana. Beruntung, mereka diizinkan masuk ke Saudi setelah salah satu keluarga laki-laki menjemputnya di bandara.

Di Saudi Arabia, hampir tidak ada perempuan yang bepergian seorang diri, termasuk berbelanja di toko atau supermarket. Sang Ibu yang harus mengurus urusan rumah tangga seorang diri karena Ayah sangat sibuk dengan urusan politik kerap menerima perlakuan buruk dari para pedagang yang menyepelakan dan mengacuhkannya.

Masih tentang pengalamannya ketika tinggal di Saudi, Ayaan sering menjumpai tetangganya secara regular dipukuli suami. Ayahnya Ayaan yang tidak pernah melakukan kekerasan fisik kepada ibunya hanya berkomentar, “Stupid bully, like all the Saudis” (perisak bodoh, sama seperti orang Saudi lainnya).

Hirsi Magan yang merupakan lulusan Colombia University – Amerika, memang tidak pernah melakukan kekerasan fisik kepada Istrinya. Tetapi bagi Ayaan, Ayahnya yang menganggap Islam sebagai penyelamat Somalia justru berulang kali melakukan kekerasan psikis kepada perempuan. Laki-laki pendiri SSDF (Somali Salvation Democratic Front) ini menikahi Ibunya ketika masih dalam ikatan perkawinan dengan istri pertamanya yang masih tinggal di Amerika dengan anak balitanya. Sementara ketika bersama Ibunya, Ayahnya tidak pernah sekalipun membantu urusan rumah tangga meskipun ibunya kewalahan harus melayani ayah dan teman-teman politiknya yang selalu bertandang ke rumah. Puncaknya, sang Ibu yang dibekap dengan pekerjaan rumah tangga itu memilih memutus hubungan dengan ayahnya yang kemudian pindah ke Ethiopia dan menikahi perempuan lain di sana. Tidak berhenti sampai di situ, ayahnya kemudian kembali lagi ke Kenya dan meninggalkan istri ketiga beserta anak tunggalnya di Ethiopia. Praktik perkawinan semacam itu sangat umum dilakukan di Somalia yang hampir 90% lebih berpenduduk muslim.

Di usia remaja, Ayaan mengalami kekerasan fisik yang membuatnya harus dirawat dua belas hari di rumah sakit di Kenya. Tulang rusuknya patah setelah dianiaya oleh guru ngajinya (ma’alim) hanya karena perempuan malang ini sedang malas mengaji. Saat beranjak dewasa, dia semakin lebih sering mendengarkan dan menyaksikan kekersan fisik yang dialami perempuan. Ia mendapatkan cerita bagaimana seorang perempuan dicerai begitu saja hanya karena ketika malam pertama perkawinan tidak mengalami pendarahan. Ia juga menerima curhat dari saudara perempuannya yang baru menikah, bahwa hubungan seks dalam perkawinan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Laki-laki tidak mempedulikan bagaimana perempuan merasakan sakit yang luar biasa ketika berusaha merobek jahitan sunat perempuannya.

Puncaknya ketika perang saudara yang sangat mengerikan pecah di Somalia, Ayaan menyaksikan krisis kemanusiaan paling buruk di dunia tepat di depan matanya; pembakaran manusia hidup-hidup, kematian anak-anak di pangkuan orang tuanya, dan yang mengerikan dalam situasi mencekam itu adalah perempuan-perempuan yang harus menderita, bahkan hingga meregang nyawa karena pemerkosaan yang bahkan terjadi di kamp-kamp pengungsian.

Sayangnya praktik-praktik kekerasan tersebut, kalaupun tidak semuanya dilakukan atas nama Islam, ‘didiamkan’ oleh orang-orang muslim, bahkan oleh para imam. Ayaan sempat bergabung dengan kelompok-kelompok revivalis Islam, bahkan membaca buku-buku Hasan Al Bana dan Sayyid Qutb yang saat itu popular di kalangan kelompok Islam di Kenya maupun Somalia. Dari mereka Ayaan mendapati ‘moral confusion’; di satu sisi kelompok-kelompok Islam yang ia ikuti cukup aktif mempropagandakan Islam sebagai jalan keluar untuk masalah moral, di sisi lain ia mendapati banyak dari mereka adalah pelaku ‘kekerasan’ kepada perempuan.

*Bersambung

Comment here