Bahkan Nabipun Selalu Mendengar Suara Perempuan

Interaksi Nabi Saw dengan para sahabat perempuan bukanlah interaksi yang kaku. Nabi Saw biasa menyapa, berbicara, dan mengunjungi para sahabat perempuan. Nabi Saw juga menyapa dan memberi salam jika bertemu dengan para sahabat perempuan. Ummu Sulaim misalnya, ibunda dari Anas bin Malik, pelayan Nabi Saw, dia mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan Nabi Saw, sehingga tidak mengherankan jika Nabi Saw sering mengunjunginya. (Musnad Ahmad, nomor hadis 25866).

Salma binti Qais juga menceritakan bagaimana Nabi Saw bersama Ali bin Abi Thalib yang baru saja sembuh dari sakit mengunjunginya. Saat itu di rumahnya Salma memiliki hasil petikan buah kurma yang masih menggantung, Nabi Saw makan beberapa buah darinya. Kemudian Ali juga ikut mengambilnya dan memakannya, tetapi kemudian Nabi Saw melarangnya karena kondisi Ali yang baru saja sembuh dari sakit.” Kemudian Salma membuatkan makanan dari ubi dan gandum untuk Nabi Saw, lalu Nabi Saw  berkata kepada Ali: “Wahai Ali, makanlah makanan ini, karena ia sangat bermanfaat bagimu (Sahih Muslim, kitab al-Jum’ah nomor hadis 1442)

Sebagai seorang pemimpin agama dan juga hakim, Nabi Saw seringkali menjadi tempat mengadu atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh para sahabatnya, termasuk para perempuan peperti yang dilakukan oleh Khansa yang mengadu kepada Nabi karena dikawinkan padahal dia tidak suka.

Hal ini diceritakan dalam hadis, bahwa suatu ketika seorang anak perempuan dari putra Ja’far merasa khawatir karena akan dikawinkan oleh orang tuanya, padahal dia tidak suka. Lalu dia mengirim utusan kepada kedua orang tua dari kalangan Anshar untuk menanyakan masalah itu. Kedua orang tua itu adalah Abdurrahman dan Mujamma’ putra-putra Jariyah. Mereka menjawab “kamu tidak perlu khawatir, sesungguhnya Khansa binti Khidam pernah dikawinkan oleh bapaknya, padahal dia tidak senang, lalu hal itu ditolak oleh Nabi Saw (Sahih Bukhari, kitab nikah} nomor hadis 4743, kitab ikrah nomor hadis 6432).

Perempuan pada masa Nabi Saw juga berani untuk berpendapat dan menentukan pilihan, termasuk berani untuk mempertahankan haknya meskipun ada syafaat dari Nabi Saw. Seperti kisah Bariroh yang memilih untuk tidak menerima pendapat atau masukan dari Nabi Saw dengan sopan.

Pada saat itu, Bariroh dan suaminya Mughis telah bercerai, Nabi seolah-olah melihat Mughis bertawaf di belakang Bariroh sambil menangis dan air matanya mengalir sampai ke jenggotnya. Selanjutnya Nabi Saw menawarkan kepada Bariroh untuk ruju’ kepada suaminya. Kemudian Bariroh-pun bertanya kepada Nabi Saw apakah ini adalah perintah Nabi untuknya, kemudian Nabi Saw menjawab bahwa ini sekedar syafaat untuk suaminya dan Bariroh menjawab bahwa dia tidak butuh lagi kepadanya.(Sahih Bukhari, kitab al-Talaq nomor hadis 4875).

Dalam sebuah riwayat lain juga diceritakan bagaimana Aisyah dengan tegas memberikan kritik terhadap hadis yang merendahkan perempuan karena disamakan dengan keledai. “Telah menceritakan kepadaku Amru bin Ali telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Bakar bin Hafsh dari Urwah bin az-Zubair dia berkata, Aisyah radhiyallahu’anhu berkata, “Apa yang memutuskan shalat?” Perawi berkata, “Kami menjawab, “Wanita dan keledai!” Kata Aisyah, “Apa wanita itu adalah hewan melata yang jelek? Sungguh aku melihat diriku sendiri (sering) tidur melintang seperti jenazah di hadapan Rasulluah Shallallahu’alaihiwasallam, ketika beliau sedang shalat.”

Hadis ini merupakan upaya Aisyah untuk menyanggah riwayat Abu Hurairah yang menyamakan perempuan dengan keledai sehingga salat seseorang bisa batal karena perempuan. Aisyah-pun menceritakan bagaimana Nabi Saw salat sementara Aisyah tidur di hadapannya.

Kisah–kisah para sahabat perempuan di atas menunjukkan betapa perempuan pada masa Nabi Saw juga menjadi subyek yang penting dan punya posisi yang setara dengan laki-laki. Interaksi antara Nabi Saw dengan para sahabat perempuan sebagaimana terekam dalam proses periwayatan hadis di atas menunjukkan bahwa suara perempuan pada masa Nabi Saw tidak diabaikan melainkan selalu didengar. Bahkan perempuan biasa memberi komentar dan melontarkan pemikirannya secara jujur dalam berbagai macam topik. Dan sikap Nabi Saw pun dalam menghadapi beragam komentar perempuan tersebut selalu menghargai, mengapresiasi dan bahkan mengafirmasi pemikiran dan argumen para perempuan ini.

Wallahu a‘lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *