Bagaimana Jika Kita Mencintai Suami Orang Lain?

“Ukhti, izinkan aku mencintai suamimu”. Sebenarnya itu adalah judul di sebuah selebaran pamflet pengajian ‘ikhwan dan akhwat’ yang diselenggarakan di Masjid Nur Madegondo 2019 lalu. Pengajian tersebut diisi oleh Ustadz Tri Asmoro Kurniawan, Konsultan Nasional Keluarga Sakinah.

Ada sebuah kalimat yang diucapkan oleh ustaz tersebut yang membuat saya tergelitik, “Mencintai suami orang secara sah adalah fitrah, bukan pelakor”. Sepenggal kalimat tersebut menggelitik saya, mengingat tren istilah pelakor (perebut laki orang) selalu saja menjadi bahasan yang sangat menggemaskan. Namun sebenarnya penulis sendiri masih setengah hati dengan sebutan istilah tersebut yang mengarah penuh kepada perempuan. Padahal hal tersebut tentu tidak lepas dari keterlibatan seorang laki-laki.

Jadi, belakangan istilah “pelakor” ini dibawa ke ranah syariat. Oh, jelas. Karena dalam Islam terdapat fikih yang mengatur pernikahan atau rumah tangga, fiqh munakahat. Dewasa ini, selain maraknya praktik poligami yang dihendaki oleh pria muncul pula fenomena wanita yang menghendaki untuk dipoligami.

Dalam hal pengajuan diri untuk menjadi istri kedua, ketiga atau keempat, akhwat ini seringkali mengatakan “Mencintai suami orang secara sah adalah fitrah, bukan pelakor” sebagai alibi. Bagi yang tidak menerima statement ini, maka akan disebut dengan istilah propaganda feminis yang menyerang ‘syariat poligami’.

Memang, rasa cinta atau benci dalam hati manusia semuanya merupakan fitrah. Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Tapi bukan berarti menjadi ‘pelakor syariah’ merupakan hal yang dikehendaki Tuhan juga, kan?. Jika saja seandainya kita mengalami hal tersebut (mencintai suami orang) terjadi kepada kita para wanita (atau mungkin juga berlaku untuk lelaki), cukup simpan rasa cinta itu dalam hati, lalu kembalikan kepada Dzat yang memiliki rasa, Allah SWT. Karena jika perasaan kita sampai terucapkan kepada istri yang bersangkutan, tidak menutup kemungkinan resiko yang didapat akan lebih besar dan tidak lebih baik.

Menurut Ustaz Tri Asmoro Kurniawan (Konsultan Nasional Keluarga Sakinah) dan sebuah pengajian di Masjid An-Nur Madegondo, Grogol, Sukoharjo, Solo pada tanggal 05 Februari 2019, ia secara terang-terangan mengatakan “boleh” mencintai suami orang, bahkan boleh mengungkapkannya. Ia menganggap enteng kalimat yang dicontohkannya sebagai berikut; “Saya menjadi istri kedua tanpa merusak hubungan atau membuatnya cerai dengan istri pertamanya.”

Saya tidak akan berbicara mengenai hukum dalam hal ini. Namun yang perlu diperhatikan adalah jika orang awam mendengar kalimat tersebut, tentu kesimpulan praktis yang didapat adalah bahwa mencintai suami orang atau menikah dengan suami orang tanpa membuatnya cerai (poligami) adalah sah-sah saja tanpa ada urusan panjang dengan siapapun, yang penting ‘hasrat memiliki’ terpenuhi. Memang benar, tidak ada satu orang pun yang berhak mengatur hati dan perasaan manusia lainnya. Tetapi bersikap ‘wajar’ terhadap orang yang sudah berumah-tangga dan menjaga keharmonisan rumah tangga orang lain jauh lebih penting. Walaupun sebenarnya menjaga keharmonisan rumah tangga orang lain bukanlah tugas utama kita sama sekali. Namun sebagai perempuan, apa salahnya kita menjaga perasaan perempuan lainnya?.

Nah kan, lagi-lagi perempuan yang menjadi tokoh sentral dalam hal ini. Bayangkan saja, ada perempuan lain yang minta izin untuk mencintai suamimu. Dalam hal ini, bagaimana istri harus bersikap? Lagi-lagi, sesama perempuan harus saling berdebat atau berkompromi. Lalu, sebagai istri, sebagai ibu, sebagai perempuan pun harus bisa bersikap terhadap suaminya. Sungguh perempuan akan berada dalam posisi terjepit jika seandainya benar ada seorang perempuan yang meminta izin kepadanya untuk mencintai suaminya.

Oke, begini saja. Jika kita masih waras, kembalikan rasa itu kepada Allah. Jika kita terus memperbaiki kualitas diri kita, Allah pun akan memberikan yang berkualitas untuk kita tanpa harus dengan jalan menyakiti hati orang lain. Bahkan bisa jadi, ketika kita sudah mengikhlaskan seseorang yang kita kagumi atau kita harapkan, ada harapan kita akan mendapatkan yang lebih baik dari orang tersebut (kok jadi baper sih saya). Dengan catatan, kita memperbaiki diri secara maksimal dan tidak lagi memikirkan perasaan kepada orang yang sudah beristri atau bersuami. Santai, jodoh ngga akan ke mana kok.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *