Andreas Harsono: Jika Jurnalisme Bermutu, Demokrasinya Baik

 

Pada momen Temu Nasional Penggerak GUSDURian (TUNAS) Tahun 2020 yang diselenggarakan secara daring (Rabu, 9 Desember 2020), Andreas Harsono menyampaikan pandangannya terkait dengan kondisi jurnalisme di Indonesia. Ia menilai jurnalisme saat ini mengalami banyak tantangan, mulai dari kualitas jurnalismenya hingga keterlibatan publik dalam proses jurnalisme.

Fenomena melemahnya jurnalisme ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi juga dunia secara umum. Meski demikian, optimisme harus tetap dipupuk sembari tetap mengawal agar jurnalisme bekerja dengan cara yang baik dan bermutu.

Andreas mengutip kisahnya saat bertemu dengan Bill Kovach, pakar jurnalisme asal Amerika Serikat, tiga tahun yang lalu. Pakar tersebut memprediksi bahwa kemenangan Trump hanya bertahan satu periode saja. Hal itu dikarenakan jurnalisme dan masyarakat sipil di Amerika Serikat cenderung masih kuat sehingga pemimpin populisme tidak akan mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama. Terbukti di Pemilu AS tahun 2020 Trump kalah dari Joe Biden.

Perbaikan kualitas demokrasi dengan memperbaiki mutu jurnalisme menjadi agenda penting di Indonesia. Apalagi beragamnya suku, budaya, dan agama di Indonesia kerap dijadikan alat polarisasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, mengajak keterlibatan publik menjadi agenda yang perlu didorong. Karena bagaimana pun peran masyarakat dalam mengawal proses demokratisasi sangat penting di era dunia digital ini.

“Hal itu diutarakan oleh Kovach dan Rosenstiel dalam bukunya yang berjudul “Blur” dan menjadi elemen kesepuluh jurnalisme,” ujar Andreas Harsono.

Tantangan Jurnalis

Selain berkutat pada persoalan internal, jurnalisme menghadapi tantangan serius ketika menyuarakan satu hal di media sosial. Hal ini diakui oleh Abdul Manan, anggota Aliansi Jurnalis Independen. Ia mengaku bahwa jurnalis kerap ingin mengutarakan pendapatnya secara langsung namun terbentur dengan kebutuhan mendasar lainnya soal mendapatkan informasi dari narasumber.

“Sebenarnya itu tidak ada masalah soal etika. Namun kalau jurnalis terlalu bersuara, di kemudian hari ada banyak narasumber yang enggan diwawancara,” ujarnya. Ia menyebut bagaimana banyak orang memahami independensi media sebagai larangan bagi jurnalis untuk beropini. Karena itulah banyak jurnalis tidak terlalu bersuara ketika ada satu isu yang tengah banyak dibicarakan.

TUNAS 2020 berlangsung selama sepuluh hari, mulai tanggal 7 Desember hingga 16 Desember 2020. Kegiatan dibagi menjadi kegiatan khusus penggerak pada tanggal 8-10 Desember dan kegiatan untuk umum bertajuk Festival GUSDURian mulai tanggal 12-15 Desember mendatang. Rangkaian akan ditutup dengan Haul Gus Dur pada tanggal 16 Desember 2020. Berbagai kegiatan publik yang seluruhnya diselenggarakan secara daring bisa diikuti oleh publik luas, baik melalui ruang Zoom atau pun live streaming di laman Fanpage KH. Abdurrahman Wahid.

Photo by brotiN biswaS from Pexels

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *