, ,

Apakah Kita Sudah Merdeka? Sebuah Refleksi Dari Perempuan

/
/

Apakah Kita Sudah Merdeka? Sebuah Refleksi Dari Perempuan

Dalam KBBI merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan dan semacamnya, seperti berdiri sendiri, terlepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa. Ada relasi kuasa yang disalahgunakan.


Secara konstitusional kita merdeka, yakni lepas dari penjajahan yang dulu menjadi problem terbesar Negara kita Indonesia. Tidak ada Belanda, Jepang atau Negara lain yang berbuat semena-mena pada rakyat Indonesia. Namun manusia sebagai individu sosial apakah benar-benar merdeka.


Saya pikir belum merdeka, ini proses panjang. Buktinya tidak sedikit para pejuang di beberapa bidang lini kehidupan masih banyak “PR” yang harus dimerdekakan. Misal, pejuang keamanan hak asasi perempuan, anak dan kaum rentan. Akhir-akhir ini muncul lagi fenomena guru melakukan pelecehan seksual pada murid perempuannya, terjadi di Perguruan Tinggi, sekolah dan pesantren. Para perempuan belum merdeka menjaga kehormatan tubuhnya sendiri karena topeng relasi kuasa yang masih berkuasa menjajah.


Para aktivis media sosial selalu mengingatkan user media untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang mereka lihat di media sosial. Dari cerita, beranda, tweet yang seakan hidup orang lain bisa disetting semaunya. Tidak ada intervensi Tuhan sebagaimana hidup diri sendiri yang susah amat. Pengguna media sosial belum merdeka dari penjajahan efek samping media sosial.


Dan mungkin saja remaja yang masih jomlo sering merasa terjajah kesepian lantaran melihat kawan sejawatnya sudah memiliki pasangan.


Lalu bagaimana meraih kemerdekaan? Kita flashback pada sejarah kemerdekaan Indonesia. Dengan apa kemerdekaan bisa diraih? Dengan perjuangan. Juang dan merdeka saling berkelindan. Merdeka bukan sebuah pencapaian final apalagi sekedar euvoria perayaan mengulang ucapan “Selamat HUT Indonesia ke …” berjuang dulu baru bisa merdeka. Tidak akan benar-benar merdeka jika tak ada juang.


Penjajah dengan segala dimensi maknanya akan senantiasa datang, tugas kita adalah terus mengupgrade diri untuk berjuang menghalau segala bentuk penjajahan, penghambaan, penindasan dan kelaliman. Dulu mereka mengusir penjajah Belanda dan Jepang selama ratusan tahun, itulah masalah krusial saat itu. Nah sekarang apa problem paling krusial yang kita alami? Beragam, selama 2 tahun kita sama-sama berjuang mengusir virus yang telah ditetapkan jadi pandemi. Sambil lalu mengusir problem-problem individu masing-masing.

Kemerdekaan Dalam Islam


Islam adalah agama yang berpihak pada kemerdekaan dan sepertinya semua agama mengamini itu. Ada kaidah mendasar tentang hal ini, الأصل في الإنسان الحرية لا الرق “Pada dasarnya setiap manusia adalah merdeka, bukan budak” Buktinya kalau ada yang nemu anak –hilang- maka otomatis dia dianggap merdeka meskipun ada kemungkinan dia adalah budak. Ini konteks dulu saat masih banyak warisan budak dari orang-orang jahiliyah.


Kemerdekaan dalam fikih diistilahkan dengan hurriyyah/istiqlal (حريّة/استقلال). Islam datang dengan visinya rahmatan lil ‘alamin bertentangan dengan sistem perbudakan yang merupakan warisan jahiliyah, penuh dengan penindasan, tidak berprikemanusiaan dan prikeadilan. Manusia diperjual belikan, diwariskan, disiksa, diperintah tanpa ada upah. Lalu Islam datang menghapusnya sedikit demi sedikit.


Makna istiqlal dalam kamus Lisan al-‘Arab, diantaranya; من معاني الاستقلال: الاعتماد على النفس، والاستبداد بالأمر Percaya diri dan kesadaran mengatur diri sendiri. Sedangkan hurrun adalah antonim dari ‘abd (budak/status budak).
Ada 3 asas kemerdekaan dalam Islam;

  1. Asas kemerdekaan individu, harta dan kehormatan. Ada wilayah teritorial seseorang tidak boleh melewati batas kemerdekaan orang lain. harta dan kehormatan manusia memiliki perlindungan hukum, sehingga tidak boleh satu kepada yang lain ada intimidasi, kesewenangan, atau diskriminasi.
    كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه
  2. Asas kemerdekaan beribadah. Dalam relasi antara Tuhan dan hamba-Nya seorang muslim tidak perlu perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. Tidak perlu dukun, paranormal, seorang syekh, mursyid atau apapun itu. Doa dan ibadah seorang muslim pasti sampai pada Tuhannya.
    الله سميع بصير (QS. Al-Mujadalah: 58)
    يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور (QS. Ghafir: 19)
    واذا سألك عبادي عني فإني قريب (QS. Al-Baqarah: 186)
  3. Asas kemerdekaan dari penghambaan nasab. Hereditas. Menghamba hanya pada Allah semata, bukan pada selain-Nya termasuk pada klan/nasab. Seseorang tidak menjadi mulia karena nasabnya melainkan karena takwanya.

**



Leave a Reply

Your email address will not be published.