,

AADM: Ada Apa Dengan Muharram?

/
/

AADM: Ada Apa Dengan Muharram?

Dari saking banyaknya hal yang ada dalam Muharram saya bingung memberi judul tulisan ini, akhirnya saya ingat film yang pernah hits tahun 2002, Ada Apa Dengan Cinta. Persamaannya, ada banyak rahasia dalam kisah cinta di film itu. Pun dalam bulan Muharram, ada banyak rahasia, kisah unik dan keutamaan dalam bulan Muharram.

Muharram adalah satu bulan dari 4 bulan mulia setelah Ramadan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Dalam tafsir as-Sam’ānī bulan-bulan ini menjadi mulia karena orang Islam memperbanyak puasa, ibadah haji-umrah dan berbahagia di hari raya.

Selama 4 bulan itu pula Allah mengharamkan peperangan sejak masa Nabi Ibrahim dan Ismail. Meski di bulan lain juga berdosa, melakukan kesalahan/maksiat di bulan-bulan ini sangat tidak diperkenankan karena kualitas dosa yang lebih besar. Sebagaimana beramal baik di bulan-bulan ini pahalanya lebih besar dari pada di bulan lain.

Lantas mengapa Muharram menjadi istimewa? Banyak riwayat tentang beberapa kisah yang terjadi di bulan ini. Di antaranya, Allah mengajari Nabi Adam nama-nama makhluk (QS. Al-Baqarah:31), hari diterimanya taubat Nabi Adam setelah dikeluarkan dari surga, Allah menyelamatkan Nabi Nuh dari banjir besar, Allah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan, Allah menganugerahkan kerajaan kepada Nabi Sulaiman, Allah menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub dan peristiwa penting lainnya.

Sebagai bentuk rasa syukur umat terdahulu merayakannya dengan berpuasa, seperti umat Yahudi dan Nasrani sejak dulu berpuasa di hari 10 Muharram, maka Nabi Muhammad memerintahkan puasa hari ke-9/tasu’ā agar berbeda dengan umat terdahulu.

Semutpun Berpuasa Asyurā’

Kejadian menakjubkan lain yang terjadi di bulan ini diceritakan oleh Fath bin Syakhraf, seorang zahid, wāri’ dari Baghdad, setiap harinya ia memotong-motong roti untuk gerombolan semut. Saat tanggal 9 Muharram gerombolan semut itu tidak makan sedikitpun. Keanehan yang serupa terjadi pula pada Al-Qādir Billah –seorang khalifah ‘Abbasiyah- tentang hal itu Abu al-Hasan al-Quzwaini menjawab bahwa pada tanggal 10 Muharram semua semut sedang berpuasa (Ma’ārifu al-In’ām wa Fadli Syuhūri al-Ayyām: 63)

Masih di kitab yang sama, Abū Mūsā al-Madīnī meriwayatkan bahwa hari itu (‘Asyura) adalah hari puasanya semua hewan. Dalam riwayat lain, ada seorang lelaki datang ke pedesaan yang penduduknya sedang menyiapkan jamuan untuk hewan-hewan yang sedang berpuasa. Setelah Asar tiba hewan-hewan itu berkumpul mengelilingi sepetak tanah dan berbuka puasa setelah matahari tenggelam.

Puasa Yang Paling Utama Setelah Ramadan

وَأَفْضَلُ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Muharram  (HR An-Nasai)

Seperti biasa perihal keutamaan, selalu ada keutamaan lain yang juga disebutkan oleh Nabi. Di antaranya puasa Sya’ban, diriwayatkan, Nabi sering sekali puasa di bulan Sya’ban bahkan ada yang mengatakan sepanjang bulan Sya’ban karena di bulan itu catatan amal sedang diangkat. Ada pula puasa Daud, Nabi pernah menyuruh seorang sahabat untuk berpuasa daud, sehari puasa-sehari berbuka karena terdapat keutamaan besar di dalamnya  yaitu latihan menahan nafsu sebelum bulan Ramadan.

Lalu sebenarnya mana puasa yang paling utama? Imam Nawawi menjawab pertanyaan ini, pertama, barangkali Nabi baru mengetahui keutamaan puasa Muharram di akhir hidupnya

لإن بقيت على قابل لأصومنَّ التاسعَ  “Kalau aku hidup sampai tahun depan, maka sungguh aku akan berpuasa tasu’a/9 Muharram

Kemungkinan lain, kebetulan di bulan Muharram nabi sering melakukan perjalanan, di lain waktu juga sakit, maka untuk berpuasa  di bulan ini menjadi terhalang.

Tak tanggung-tanggung  ganjaran puasanya adalah pengampunan kesalahan selama setahun  (as-Sunan al-Kubrā li al-Baihaqī), tentu kesalahan yang didelete adalah dosa-dosa kecil, selain syirik dan dosa besar semacamnya.

Hal Lain yang Dianjurkan di Bulan Muharram

Dulu setelah Allah menyuruh seluruh makhluk sujud hormat pada Nabi Adam ‘alaihissalam, mengajarinya nama-nama dan tinggal di surga bersama istrinya Hawa ‘alaihassalam, iblis datang dengan membawa kedengkiannya, menggoda keduanya hingga menyebabkan mereka keluar dari surga.

Iblis berkata “Aku lebih baik dari Adam” (QS. Al-A’raf: 12) yang menjadikannya sebagai makhluk yang dibenci Khālik, padahal seturut dengan itu kesempurnaan Adam semakin tampak dengan pengakuan dosa atas kelakuannya “Kami telah dzalim maka ampunilah kami” (QS. Al-A’raf: 23)

Karenanya pada hari ‘Asyurā sunah membaca ayat QS. Al-A’raf: 23

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Sebagai pengakuan diri kita yang tidak maksum ini atas kesalahan dan dosa yang tak terhitung selama hidup.

Anjuran yang paling menguntungkan adalah berbagi dengan diri sendiri dan orang lain. Hari ‘Asyūrā ini menjadi momentum spesial untuk memanjakan diri sendiri dan keluarga, janji Nabi “Barang siapa yang melebihkan (nafkah) di hari Asyūrā maka Allah akan melancarkan rezekinya sepanjang tahun

Sekarang kalian boleh list barang kesukaan keluarga dari sekarang untuk dipersembahkan di tanggal 10 nanti.

Tulisan ini saya tutup dengan puisi dari Ibn Duraid al-Uzdī

وإنما المرء حديث بعده # فكن حديثا حسنا لمن وعى

Setiap insan pasti memiliki sejarah, maka orang yang sadar akan membuat cerita yang indah



Leave a Reply

Your email address will not be published.